Home » Cerita Dewasa
Permainan Cinta Berawal Dari Chat

Cerita ini bermula dari suatu kebetulan yang tidak disengaja. Sampai saat ini aku suka tertawa 
sendiri kalau mengingat awal kejadian ini. Bermula dari suatu Sabtu siang, aku janjian ketemu 
dengan salah seorang teman chatku. Namanya Fenny, mahasiswi tingkat akhir di salah satu PTS di 
Jakarta Barat. Teman chatku yang satu ini cukup misterius.
Aku nggak pernah tau dia tinggal dimana, dengan siapa, bahkan aku tak pernah dikasi nomer telepon 
rumahnya. Kampusnya pun aku nggak yakin kalau yang disebutnya benar.Saat janjian dengan Fenny 
pun hanya lewat SMS. Biasanya aku nggak pernah meladeni teman-teman chat yang janjian ketemu
via SMS. Kapok,dulu pernah dibo'ongin. Tapi entah kenapa aku penasaran sekali dengan Fenny. 
Akhirnya kami janjian untuk ketemu di Mal Kelapa Gading, tepatnya di Wendy's.
Resenya, Fenny juga nggak mau kasi tau pakaian apa yang dia pakai dan ciri-cirinya. Pokoknya 
surprise, katanya.Itulah kenapa hari Sabtu siang ini aku bengong-bengong ditemani baked 
potatoenya Wendy's sambil menunggu kedatangan Fenny. Sudah hampir satu jam aku menunggu tapi 
tidak ada kabar. SMSku nggak dibales-bales,mau telepon pulsa udah sekarat. Aku hanya duduk 
sambil memperhatikan sekelilingku yang cukup sepi. Mataku tertuju pada seorang wanita keturunan 
Chinese berumur kira-kira 30an yang duduk sendirian di salah satu sudut. Herannya sejak tadi 
wanita tersebut memperhatikanku terus. Aku sempat berpikir apa dia yang bernama Fenny.
Tapi rasanya bukan.Akhirnya karena bete menunggu aku pun meninggalkan Wendy's.Tiba-tiba aku 
merasa ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh dan melihat wanita yang 
kuperhatikan tadi tersenyum ke arahku. "Rio ya?" tanyanya. Aku terkejut. Kok dia tau namaku. 
Jangan-jangan wanita ini benar Fenny. Aku mengangguk. "Iya, mm.. Fenny?" tanyaku. Wanita itu 
menggeleng sambil mengernyitkan kening. "Bukan, kok Fenny sih? Kamu Rio yang di Kayu putih 
kan?" aku tambah bingung mendengarnya. "Bukan, lho tante bukan Fenny?".Kemudian wanita itu 
mengajakku berteduh di salah satu sudut sambil menjelaskan maksud yang sebenarnya. Aku 
mendengarkan, lantas aku juga gantian menjelaskan. Akhirnya kami sama-sama tertawa 
terbahak-bahak setelah tau duduk persoalannya. Wanita itu bernama Linda, dan dia juga sedang 
janjian dengan teman chat-nya yang juga bernama Rio, seperti namaku.
Akhirnya kami malah berkenalan karena orang-orang yang kami tunggu tak kunjung datang juga. 
Aku memanggilnya Ci Linda, karena dia menolak dipanggil tante. Kesannya tua katanya.Siang itu Ci 
Linda malah mengajakku jalan-jalan. Aku ikut dengan Altis-nya karena aku tidak membawa mobil. 
Ci Linda mengajakku ke butik teman maminya di daerah Permata Hijau. Tante Wiwin, sang pemilik 
butik adalah seorang wanita yang sudah berusia di atas 50 tahun, tubuhnya cukup tinggi dan agak 
montok. Kulitnya yang putih bersih hari itu dibalut blus transparan yang bahunya terbuka lebar dan 
celana biru tua dari bahan yang sama dengan bajunya. Agak-agak eksentrik. Dasar desainer pikirku. 
Karena hari itu butik Tante Wiwin tidak begitu ramai, kami bertiga ngobrol-ngobrol sambil minum 
teh di salah satu ruang santai."Aduh Yo.. maaf.." seru Tante Wiwin. Wanita itu menumpahkan teh 
yang akan dituangnya ke cangkirku tepat di celanaku bagian pangkal paha. Aku sedikit mengentak 
karena tehnya agak panas."Nggak pa-pa Tante.." jawabku seraya menepuk-nepuk kemejaku yang 
juga kena tumpahan teh.
Tante Wiwin reflek menepis-nepis bercak teh yang membasahi cenala ku. Ups.. tanpa sengaja jemari 
lembutnya menyentuh batang kemaluanku."Eh.. kok keras Yoo? Hihihi.." goda Tante Wiwin sambil 
memijit-mijit kemaluanku. Aku jadi tersenyum. Ya gimana nggak keras sedari ngobrol tadi mataku 
tak lepas dari bahu Tante Wiwin yang mulus dan kedua belah paha Ci Linda yang putih. "Iya.. Tante 
sih numpahin.." jawabku setengah bercanda."Idih.. Tante Wiwin kumat genitnya deh.. biasa Yo, udah 
lama nggak.. aww!!" Ci Linda tak sempat menyelesaikan celetukkannya karenaTante Wiwin 
mencubit pinggang wanita itu."Iya nih Tante, udah numpahin digenitin lagi. Pokoknya bales 
tumpahin juga lho hihihi.." aku gantian menggoda wanita itu. Tante Wiwin malah tersenyum sambil 
merangkul leherku. "Boleh, tapi jangan ditumpahin pake teh ya.." bisiknya di telingaku. Aku 
pura-pura bego. "Abis mau ditumpahin apa Tante?" tanyaku. Tante Wiwin meremas batang penisku 
dengan gemas."Ya sama 'teh alami' dari kamu dong sayang.. mmhh.. mm.." Tante Wiwin langsung 
mengecup dan melumat bibirku. Aku yang memang dari tadi sudah horny menyambut lumatan bibir 
Tante Wiwin dengan penuh nafsu. Kedua tanganku memeluk pinggang wanita setengah baya itu 
dengan posisi menyamping. Sementara tangan Tante Wiwin yang lembut merangkul leherku. Ah.. 
lembut sekali bibirnya.Ci Linda yang melihat adegan kami tidak tinggal diam. Wanita berkulit putih 
mulus itu mendakati tubuhku dan mulai memainkan kancing celana jeansku.
Tak sampai semenit wanita itu sudah berhasil melucuti celana jeansku sekaligus dengan celana 
dalamnya. Tanpa ampun lagi batang penisku yang sudah mulai mengeras itu berdiri tegak seolah 
menantang Ci Linda untuk menikmatinya. Ci Linda turun ke bawah sofa untuk memainkan penisku. 
Jemarinya yang lembut perlahan-lahan mengusap dan memijit setiap centi batang penisku. Ugghh.. 
birahiku semakin naik.Lumatan bibirku di bibir Tante Wiwin semakin bernafsu. Lidahku menjelajahi 
rongga mulut wanita setengah baya itu. Tante Wiwin merasa keasyikan.Aku yang semakin terbakar 
nafsu mencoba menularkan gairahku ke Tante Wiwin. Dari bibir, lidahku berpindah ke telinganya 
yang dihiasi anting perak. Tante Wiwin menggelinjang keasyikan. Dia meminta waktu sebentar 
untuk melepas anting-antingnya agar aku lebih leluasa. Lidahku semakin liar menjelajahi telinga, 
leher dan bahu Tante Wiwin.
Tampaknya wanita itu mulai tak kuasa menahan birahinya yang semakin memuncak. Dia 
melepaskan diri dari tubuhku dan memintaku untuk melorotkan celananya.Tanpa disuruh kedua 
kalinya aku pun langsung melucuti Tante Wiwin sekaligus dengan bajunya, hingga tubuh wanita itu 
bersih tanpa sehelai benang pun.Gila, udah kepala empat tapi tubuh Tante Wiwin masih kencang. 
Kulitnya yang putih betul-betul terasa halus mulus. Sambil bersandar pada pegangan sofa, Tante 
Wiwin merentangkan kedua belah pahanya yang mulus dan memintaku melumat kemaluannya yang 
bersih tanpa bulu. Tanpa basa-basi aku langsung mendekatkan wajahku ke vaginanya dan mulai 
menjilati daerah pinggir kemaluannya."Hhhmm.. sshh.. teruss Yoo.." desah Tante Wiwin keasyikan. 
Aku terus menjilati vaginanya sambil tangan kananku membelai pangkal pahanya yang mulus. Di 
bawah, Ci Linda masih asyik mempermainkan kemaluanku. Kelima jemarinya yang lentik lincah 
sekali membelai dan mengocok batang penisku yang ujungnya mulai basah. Sesekali lidahnya 
membasahi permukaan penisku. Sebagian batang penisku tampak merah terkena lipstik Ci Linda. 
Kepala wanita itu naik turun mengikuti ayunan kenikmatan di penisku. Ahh.. lembut sekali mulut Ci 
Linda mengulumnya.Saking asyiknya tak sadar aku sampai menghentikan permainanku dengan 
Tante Wiwin untuk merasakan kenikmatan yang diberikan Ci Linda. Tante Wiwin tersenyum melihat 
ekspresiku yang mengejang menahan nikmat.Wanita itu merengkuh kepalaku untuk melanjutkan 
tugasku memberi kenikmatan untuknya.Aku semakin buas melumat kemaluan Tante Wiwin. 
Jemariku mulai ikut membantu.
Liang kemaluan Tante Wiwin sudah kutembus dengan jari tengahku. Sambil kukocok-kocok, aku 
menjilati klitorisnya. Wanita itu menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Kedua tangannya 
yang lembut menjambak rambutku.Tanpa kusadari, Ci Linda sudah melucuti dirinya sendiri sampai 
telanjang bulat. Tiba-tiba wanita itu naik ke atas tubuhku dan bersiap mengurung penisku dengan 
vaginanya yang lembut. Kedua tangannya merengkuh leherku. Tubuhnya mulai merendah hingga 
ujung penisku mulai menyentuh bibir vaginanya. Dengan bantuan tangan kiriku, perlahan penisku 
mulai masuk ke dalam liang kenikmatan itu, dan.. ssllppblleess.. Amblas sudah penisku di liang 
kemaluan Ci Linda. Sambil memeluk bahuku, tubuh Ci Linda naik-turun. Ugghh.. nikmat sekali. 
Aku sampai nggak bisa konsen ngelumat vagina Tante Wiwin. Tapi aku nggak mau kalah. Yang 
penting Tante Wiwin mesti diberesin dulu.Sambil menahan birahiku yang sudah di ubun-ubun 
gara-gara Ci Linda,aku terus melumat vagina Tante Wiwin. Jari tengahku yang kini sudah dibantu 
jari manis semakin cepat mengocok-ngocok di dalam vagina Tante Wiwin. Lidahku semakin liar 
menjelajahi klitoris dan bibir vaginanya.Tubuh Tante Wiwin pun semakin menggelinjang tak karuan. 
Sepertinya wanita itu sudah tak kuasa lagi menahan kenikmatan yang kuberikan. Akupun mulai 
merasa dinding vaginanya berdenyut."Ssshh.. oohh.. Riioo..aahh.." Tante Wiwin mendesah 
meregang nikmat sambil meremas kepalaku yang masih menempel ketat di vaginanya. Aku 
merasakan rembesan lendir yang cukup deras dari dalam sana. Hmm.. aroma vagina yang begitu 
khas segera tercium.
Aku pun menghirup lendir-lendir kenikmatan itu sambil menjilati sisa-sisa yang menempel di vagina 
Tante Wiwin. Setelah puas melepas kenikmatannya, Tante Wiwin mengangkat kedua pahanya dari 
tubuhku dan membiarkan aku leluasa menikmati permainan dengan Ci Linda.Bebas dari tubuh Tante 
Wiwin, kini Ci Linda yang mendekap tubuh kuerat. Payudaranya yang bulat dan montok menempel 
ketat di dadaku. Ahh..kenyal sekali. Aku semakin merasakan kekenyalannya karena tubuh Ci Linda 
naik-turun. Sementara bibir kami asyik saling melumat."Mmhh..ssllpp..aahh..mm.." berisik sekali 
kami berciuman. Tante Wiwin sampai geleng-geleng melihat kami berdua yang sama-sama dipacu 
birahi.Kemudian kami bertukar posisi. Tubuh kami berguling ke arah berlawanan sehingga kini 
tubuh Ci Linda duduk bersandar di sofa dengan posisi kedua kaki mulusnya yang mengangkang. 
Sambil bertumpu pada lutut di lantai, aku bersiap memasukkan penisku lagi ke dalam liang 
kemaluan Ci Linda. Ugghh.. kali ini lebih mudah karena vagina Ci Linda sudah basah.
Pantatku maju mundur seiring kenikmatan yang dirasakan Ci Linda.Wanita itu bahkan sudah tak 
kuasa memeluk tubuhku. Kedua tangannya direntangkan untuk menahan rasa nikmat yang 
dirasakannya. Aku semakin menggoyang pantatku dengan keras. Aku tahu bahwa sebentar lagi Ci 
Linda akan mencapai klimaks, namun aku juga tahu bahwa Ci Linda tak mau kalah denganku. Aku 
melihat ekspresinya yang berusaha menahan nikmat."Terus Yo.. bentar lagi tuh.. hihihi.." goda Tante 
Wiwin. Aku tersenyum kemudian mengecup bibir wanita yang sedang duduk di samping Ci Linda 
tersebut. Tante Wiwin malah membantuku dengan menjilat,mengisap dan mengulum payudara dan 
puting Ci Linda."Aahh.. Yoo.. sshh.." akhirnya Ci Linda meregang kenikmatannya.Aku merasakan 
cairan hangat membasahi penisku di dalam vaginanya. Aku mendekap tubuh Ci Linda yang hangat. 
"Hh.. gila kamu Yo, aku pikir bakal kamu duluan.." ujar Ci Linda. Aku tersenyum sambil melirik ke 
arah Tante Wiwin. "Ya kan berkat bantuan Tante Wiwin.." jawabku seraya mencubit hidung Tante 
Wiwin. Wanita itu memelukku."Nah, sekarang giliran aku lagi Yo, kamu kan belum puasin aku 
dengan pentunganmu itu hihihi.. Ayo, kali ini pasti kamu udah nggak tahan.." Tante Wiwin 
menantangku bermain lagi. Tanpa diminta dua kali aku langsung menjawab tantangannya. Aku pun 
melakukan hal yang sama seperti dengan Ci Linda tadi. Kali ini aku mengakui permainan Tante 
Wiwin yang jauh lebih liar dan berpengalaman. Akhirnya kami klimaks bersama-sama. Aku klimaks 
di dalam vagina Tante Wiwin yang hangat.Ruang santai itu memang betul-betul hebat.
Tak seorang karyawan pun yang mengetahui apa yang baru saja kami lakukan. Setelah puas 
bermain,kami bertiga mandi bersama. Tadinya setelah mandi kami mau melanjutkan lagi di kamar 
tidur Tante Wiwin. Tapi karena sudah sore, sebentar lagi suami Tante Wiwin pulang. Untungnya Ci 
Linda punya ide untuk melanjutkan di hotel. Tante Wiwin pun setuju, namun aku dan Ci Linda 
berangkat duluan.Malam itu kami check-in di salah satu hotel di daerah Thamrin. Aku dan Ci Linda 
lebih dulu melanjutkan permainan. Satu jam kemudian Tante Wiwin baru datang melengkapi 
kenikmatan kami. Dan yang bikin aku surprise, malam itu Tante Wiwin mengajak teman 
seprofesinya yang umurnya kira-kira lebih muda 3 atau 5 tahun, namanya Tante Ida. Malam itu aku 
betul-betul puas bersenang-senang dengan mereka bertiga. Kami melepas birahi sampai jam 3 pagi. 
Kemudian kami tidur sampai jam 9 pagi, lantas kembali menuntaskan permainan. Aku betul-betul 
tidak menyangka kalau gara-gara salah orang bisa sampai seperti ini.Sampai kini aku nggak pernah 
ketemu dengan Fanny, teman chatku. Kami pun nggak pernah SMSan lagi. Entah kemana perginya 
Fanny. Tapi yang jelas semenjak kejadian itu, aku terus keep contact dengan Ci Linda, Tante Wiwin 
dan Tante Ida. Sekarang Ci Linda sudah menikah dan tinggal di Australia dengan suaminya. Tapi 
kami masih sering kontak. Sedangkan dengan Tante Wiwin dan Tante Ida, aku masih terus 
berhubungan untuk sesekali berbagi kenikmatan. Tadinya mereka ingin memeliharaku sebagai 
gigolo, namun aku menolak karena aku melakukannya bukan untuk uang dan materi, tapi untuk 
kesenangan saja. Kadang kalau Ci Linda sedang di Indonesia, kami menyempatkan diri untuk 
mengunjungi butik Tante Wiwin bersama-sama untuk melepas birahi. Tempat Tante Wiwin sering 
dijadikan tempat affair kami agar suaminya tidak curiga.Oke, segitu dulu pengalamanku. Salam 
manis buat Ci Linda yang lagi hamil 3 bulan. Mudah-mudahan kesampean dapat anak laki-laki. Buat 
Tante Wiwin dan Tante Ida, thank's buat kehangatan yang diberikan. Juga buat Fanny, my mysterious 
friend yang udah membuka jalan hehehe..

Terlanjur Tumpah Didalam

Pada waktu aku telah menyelesaikan pekerjaan, karena letak kantorku yang amat sangat jauh dengan 
rumah. Aku memutuskan untuk mengontrak Apartemen di daerah Kuningan sehingga jika ke kantor 
tidak terlalu jauh. Namaku Bramanto. Sekarang saya berkerja di salah satu perusahaan 
telekomunikasi di daerah kuningan Jakarta. Dulu aku tinggal bersama kedua orang tuaku di sebuah 
kompleks tentara yang amat membosankan sehingga aku memutuskan untuk mandiri dengan 
menghuni apartemen milik dari saudaraku yang baru menikah sehingga dia di boyong oleh suaminya 
ke Surabaya.Hari pertama aku menghuni aku lapor dengan Ketua Perhimpunan Pengurus Apartemen
dimana aku tinggal beliau kebetulan tinggal di lantai 12 sedangkan aku di lantai 11. Setelah melapor 
aku dimohon bantuannya untuk menjaga kebetulan adik perempuan beliau tinggal di sebelahku yaitu 
Tante Vivi. Hari kedua aku mencoba untuk berkenalan dengan Tante Vivi, ternyata beliau tidak 
terlalu tua, kelihatannya sekitar 38 - 40 tahunan. Orangnya ramah dan baik sekali. Yang aku heran 
sampai umur segitu beliau belum menikah, mungkin punya masalah dengan karir karena aku melihat 
mobilnya ada dua yaitu Toyota Alphard dan Toyota Camry.
Tante Vivi begitu aku memanggilnya memiliki 2 pembantu dan seorang sopir yang telah melayani 
beliau selama 3 tahun di Apartemen itu.
Berikut adalah pengalamanku diwaktu tidak terduga dimana aku dititipkan kunci Apartemen oleh 
beliau karena semua pembantu dan sopirnya cuti lebaran, sehingga beliau tingal di rumah kakaknya 
di lantai 12,Sekedar gambaran, Tante Vivi mempunyai tinggi badan sekitar 165 cm, mempunyai 
pinggul yang besar, buah pantat yang bulat, pinggang yang ramping, dan perut yang agak rata (ini 
dikarenakan senam aerobic, fitness, dan renang yang diikutinya secara berkala), dengan didukung 
oleh buah dada yang besar dan bulat (belakangan saya baru tahu bahwa Tante Vivi memakai Bra 
ukuran 36B untuk menutupinya). Dengan wajah yang seksi menantang dan warna kulit yang putih 
bersih, wajarlah jika Tante Vivi menjadi impian banyak lelaki baik-baik maupun lelaki hidung 
belang.Hingga pada suatu sore, saat saya pulang kerja saya mendengar ada ketukan pintu di 
apartemenku , kemudian saya intip dari lubang pintu ternyata Tante Vivi.
“eh ya ada apa tante” kataku sambil membuka pintu.
“Ngga Bram ada surat atau tagihan kartu kreditku ngga dari Front Office depan?” jawab tante Vivi.
“Sepertinya ngga ada tante” jawabku
“Eh aku numpang ke kamar mandimu ya” sambil meringis, mungkin dia udah kebelet pipis he he he.
“silahkan tan tapi kamar mandinya ngga sebersih punya tante lho maklum bujangan” kataku sambil 
tertawa.” Ngga apa apa” jawabnya.
baru aku sadar bahwa si tante vivi memakai baju training tipis mungkin baru lari atau fitness 
di lantai 2.“Abis lari ya tan” tanyaku
“Iya tapi nyari kamar mandi susah mana liftnya lama lagi” ujar tante vivi sambil ngeloyor ke kamar 
mandiku.Sambil jalan ke dapur aku berfikir kok kayaknya ada yang salah ya dengan membiarkan si 
tante ke kamar mandi tapi apa ya?. Ya ampun tadi khan aku lagi nonton BF di laptop memang 
kebetulan mau coli sih maklum belum ada pasangan/pacar. Wah mati gue ketahuan dah sama tante 
vivi. Ah bodo amat bodo amat kaya dia ngga pernah muda aja.
 
Begitu keluar dari kamar mandi si tante senyum-senyum, wah malu deh aku.
“Hayo kamu tadi lagi ngapain Bram? tanya si tante.
“Ngga ngapa-ngapain kok tan” jawabku sambil menunduk kebawah, Malu kucing.
Dan tanpa saya sadari tiba-tiba dia mencekal tangan saya.
“Bram..” katanya tiba-tiba dan terlihat agak sedikit ragu-ragu.
“Ya Tante..?” Jawab saya.
“Eee.. nggak jadi deh..” Jawabnya ragu-ragu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tante..? Tanya saya agak bingung karena melihat keragu-raguannya.
“Eee.. nggak kok. Tante cuma mau nanya..” jawabnya dengan ragu-ragu lagi.
“Kamu sering ya nonton film itu di kamar mandi..?” tanya dia.
“Iya sih tan. Maklum tan belum punya pasangan..?” jawab ku terpaksa.
“Terus pake sabun ya ? he he he kata tante vivi sambil tertawa
“Iya tan, udah ah aku tengsin nih malu ditanya terus” Tegasku sambil ngomel.
“Jangan marah dong , biasa lagi bujangan yang penting jangan main pelacur, jorok nanti kena 
penyakit” jawab tante vivi.
“Eee.. mau dibantuin Tante nggak..? sambungnya
“Maksud tante? Tanya ku wah ibarat ada lanjutan dari film ku tadi nih. Kayaknya si tante horni abis.
” Iya kamu nonton bareng tante khan biar ngga malu lagi” sambil melayang tangan tante vivi ke 
selangkangan ku. “sana ambil laptop mu”
asik banget dah pikirku tanpa tendeng aling-aling aku berlari kekamar mandi dan membawa keluar 
laptop itu. Kemudian aku setel lebih dulu film yang tadi saya tonton dan belum habis. Beberapa 
menit kemudian Tante vivi duduk disebelahku sambil membawa teh panas dengan wangi tubuh yang 
segar. Saya selidiki tiap sudut tubuhnya yang masih terbalut baju training dan kemudian beliau 
melepas atasannya sehingga terlihat tanktop tipis biru muda yang agak menerawang tersebut, 
sehingga dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya karena dia tidak memakai Bra. 
Tanpa kusadari, di antara degupan jantungku yang terasa mulai keras dan kencang, kejantananku 
juga sudah mulai menegang. Dengan santai dia duduk tepat di sebelahku, dan ikut menonton film BF 
yang sedang berlangsung. “Cakep-cakep juga yang main..” akhirnya dia memberi komentarnya.
“Dari kapan Bram mulai nonton film beginian..? tanyanya.
“Udah dari dulu Tante..” kataku.
“Mainnya juga bagus dan tidak kasar. Bram udah tahu rasanya belum..? tanya dia lagi.
“Ya sempet sih tan waktu di rumah sakit sama suster”
“wah enak dong lagi sakit di servis suster”
“Iya tapi udah lama tan udah lupa rasanya, tapi kata temen-temen sih enak. Emang kenapa Tante, 
mau ngajarin saya yah? Kalau iya boleh juga sih”, kataku.
“Ah Bram ini kok jadi nakal yah sekarang”, katanya sambil mencubit lenganku.
“Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kamu tahu rasanya”, tambahnya dengan sambil melirik ke 
arahku dengan agak menantang.
Tidak lama berselang, tiba-tiba Tante Vivi menyenderkan kepalanya ke bahuku. Seketika itu pula 
aku langsung membara. Tapi aku hanya bisa pasrah saja oleh perlakuannya. Sebentar kemudian 
tangan Tante Vivi sudah mulai mengusap-ngusap daerah tubuhku sekitar dada dan perut . 
Rangsangan yang ditimbulkan dari usapannya cukup membuat aku nervous karena itu adalah kali 
pertama aku diperlakukan oleh seorang wanita yang usianya diatasku. Kejantananku sudah mulai 
semakin berdenyut-denyut siap bertempur.
Kemudian Tante Vivi mulai menciumi leherku, lalu turun ke bawah sampai dadaku. Sampai di 
daerah dada, dia menjilat-jilat ujung dadaku, secara bergantian kanan dan kiri. Tangan kanan Tante 
Vivi juga sudah mulai masuk ke dalam celanaku, dan mulai mengusap-usap kejantananku.
Karena dalam keadaan yang sudah sangat terangsang, aku mulai memberanikan diri untuk meraba 
celana yang dia pakai. Aku remas payudaranya dari luar tanktop, dan aku remas-remas, terkadang 
aku juga mengusap ujung-ujung tersebut dengan ujung jariku. “Ssshh.. ya situ Bram..” katanya 
setengah berbisik. “Ssshh.. oohh..”
Tiba-tiba dia memaksa lepas celana pendekku, dan diusapnya kejantananku. Akhirnya bibir kami 
saling berpagutan dengan penuh nafsu yang sangat membara. Dan dia mulai menjulur-julurkan 
lidahnya di dalam mulutku. Sambil berciuman tanganku mulai bergerilya melalui celana trainingnya 
yang aku pelorotkan ke bawah sampai pada permukaan celana dalamnya, yang rupanya sudah mulai 
menghangat dan agak lembab. Aku melepaskan celana dalam Tante Vivi.
Satu persatu kami membuka baju, sehingga kami berdua menjadi telanjang bulat. Kutempelkan 
jariku di ujung atas permukaan kemaluannya. Dia kelihatan agak kaget ketika merasakan jariku 
bermain di daerah seputar klitorisnya. Lama kelamaan Aku masukkan satu jariku, lalu jari kedua. 
“Aaahh.. sshh.. oohh.. terus Bram.. terus..” bisik Tante Vivi.
Ketika jariku terasa mengenai akhir lubangnya, tubuhnya terlihat agak bergetar. “Ya.. terus Bram.. 
terus.. aahh.. sshh.. oohh.. aahh.. terus.. sebentar lagi.. teruuss.. oohh.. aahh.. aarrgghh..
” kata Tante Vivi.
Seketika itu pula dia memeluk tubuhku dengan sangat erat sambil menciumku dengan penuh nafsu. 
Aku merasakan bahwa tubuhnya agak bergetar (yang kemudian baru aku tahu bahwa dia sedang 
mengalami orgasme). Beberapa saat tubuhnya mengejang-ngejang menggelepar dengan hebatnya. 
Yang diakhiri dengan terkulainya tubuh Tante Vivi yang terlihat sangat lemas di sofa.
“Saya kapan Tante, kan saya belum..?” Rujukku.
“Nanti dulu yah sayang, sebentar.. beri Tante waktu untuk istirahat sebentar aja”, kata Tante Vivi.
Tapi karena sudah sangat terangsang, kuusap-usap bibir kemaluannya sampai mengenai klitorisnya, 
aku dekati payudaranya yang menantang itu sambil kujilati ujungnya, sesekali kuremas payudara 
yang satunya. Sehingga rupanya Tante Vivi juga tidak tahan menerima paksaan rangsangan-
rangsangan yang kulakukan terhadapnya. Sehingga sesekali terdengar suara erangan dan desisan dari 
mulutnya yang seksi. Aku usap-usapkan kejantananku yang sudah sangat amat tegang di bibir 
kemaluannya sebelah atas. Sehingga kemudian dengan terpaksa dia membimbing batang 
kemaluanku menuju lubang kemaluannya. Pelan-pelan saya dorong kejantananku agar masuk semua.
Kepala kejantananku mulai menyentuh bibir kewanitaan Tante Vivi. “Ssshh..” rasanya benar-benar 
tidak bisa kubayangkan sebelumnya. Lalu Tante Vivi mulai menyuruhku untuk memasukan 
kejantananku ke liang kewanitaannya lebih dalam dan pelan-pelan. “Aaahh..” baru masuk kepalanya 
saja aku sudah tidak tahan, lalu Tante Vivi mulai menarik pantatku ke bawah, supaya batang 
kejantananku yang perkasa ini bisa masuk lebih dalam. Bagian dalam kewanitaannya sudah terasa 
agak licin dan basah, tapi masih agak seret, mungkin karena sudah lama tidak dipergunakan. Namun 
Tante Vivi tetap memaksakannya masuk. “Aaagghh..Bram ” rasanya memang benar-benar luar biasa 
walaupun kejantananku agak sedikit terasa ngilu, tapi nikmatnya luar biasa. Lalu terdengar suara 
erangan Tante Vivi.
Lalu Tante Vivi mulai menyuruhku untuk menggerakkan kemaluanku di dalam kewanitaannya, yang 
membuatku semakin gila. Ia sendiri pun mengerang-ngerang dan mendesah tak karuan. Beberapa 
menit kami begitu hingga suatu saat, seperti ada sesuatu yang membuat liang kewanitaannya 
bertambah licin, dan makin lama Tante Vivi terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang membuat 
dia berteriak dan mengerang dengan sejadi-jadinya karena tidak kuasa menahannya. Dan tiba-tiba 
kemaluanku terasa seperti disedot oleh liang kewanitaan Tante Vivi, yang tiba-tiba dinding-dinding 
kewanitaannya terasa seperti menjepit dengan kuat sekali. Aduuh.. kalau begini aku makin tidak 
tahan dan.. “Aaarrgghh.. sayaang.. Tante keluar lagii..” jeritnya dengan keras, dan makin basahlah di 
dalam kewanitaan Tante Vivi, tubuhnya mengejang kuat seperti kesetrum, ia benar-benar 
menggelinjang hebat, membuat gerakannya semakin tak karuan. Dan akhirnya Tante Vivi terkulai 
lemas, tapi kejantananku masih tetap tertancap dengan mantap.
Aku mencoba membuatnya terangsang kembali karena aku belum apa-apa. Tangan kananku 
meremas payudaranya yang sebelah kanan, sambil sesekali kupilin-pilin ujungnya dan kuusap-usap 
dengan ujung jari telunjukku. Sedang payudara kirinya kuhisap sambil menyapu ujungnya dengan 
lidahku.“Ssshh.. shh..” desahan Tante Vivi sudah mulai terdengar lagi. Aku memintanya untuk 
berganti posisi dengan doggy style. Aku mencoba untuk menusukkan kejantananku ke dalam liang 
kewanitaannya, pelan tapi pasti. Kepala Tante Vivi agak menengok ke belakang dan matanya melihat 
mataku dengan sayu, sambil dia gigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang timbul. Sedikit 
demi sedikit aku coba untuk menekannya lebih dalam. Kejantananku terlihat sudah tertelan 
semuanya di dalam kewanitaan Tante Vivi, lalu aku mulai menggerakkan kejantananku 
perlahan-lahan sambil menggenggam buah pantatnya yang bulat. Dengan gaya seperti ini, desahan 
dan erangannya lebih keras, tidak seperti gaya konvensional yang tadi.
Aku terus menggerakkan pinggulku dengan tangan kananku yang kini meremas payudaranya, 
sedangkan tangan kiri kupergunakan untuk menarik rambutnya agar terlihat lebih merangsang dan 
seksi. “Ssshh.. aarrgghh.. oohh.. terus Bram.. terus.. aarrgghh.. oohh..” Tante Vivi terus mengerang.
Beberapa menit berlalu, kemudian Tante Vivi merasa akan orgasme lagi sambil mengerang dengan 
sangat keras sehingga tubuhnya mengejang-ngejang dengan sangat hebat, dan tangannya 
mengenggam bantalan sofa dengan sangat erat. Beberapa detik kemudian bagian depan tubuhnya 
jatuh terkulai lemas menempel pada sofa itu sambil lututnya terus menyangga pantatnya agar tetap di 
atas. Dan aku merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut dan aku memberitahukan hal tersebut 
padanya, tapi dia tidak menjawab sepatah kata pun. Yang keluar dari mulutnya hanya desahan dan 
erangan kecil, sehingga aku tidak berhenti menggerakkan pinggulku terus.
Aku merasakan tubuhku agak mengejang seperti ada sesuatu yang tertahan, sepertinya semua tulang-
tulangku akan lepas dari tubuhku, tanganku menggenggam buah pantat Tante Vivi dengan erat, yang 
kemudian diikuti oleh keluarnya cairan maniku di dalam liang kewanitaan Tante Vivi. Tubuhku 
terasa sangat lemas sekali. Setelah kami berdua merasa agak tenang, aku melepaskan kejantananku 
dari liang nikmat milik Tante Vivi.
Dengan rasa kecapaian yang luar biasa Tante Vivi membalikkan tubuhnya dan duduk di sampingku 
sambil menatap tajam mataku dengan mulut yang agak terbuka, sambil tangan kanannya menutupi 
permukaan kemaluannya.
“Wah kok ngga ditarik sih Bram, nanti aku hamil lho..? tanyanya dengan suara yang agak bergetar.
“Maaf tan aku lupa abis keenakan sih” jawabku“
Ya sudahlah.. tapi lain kali kalau sudah kerasa kayak tadi itu langsung buru-buru dicabut dan 
dikeluarkan di luar ya..?” katanya menenangkan diriku yang terlihat takut.
“I.. iiya Tante..” jawabku sambil menunduk.
“Ya santai aja aku sebenarnya udah minum pil kok Bram” jawab Tante Vivi.
 Wah rupanya nih tante udah pengalaman dalam hal beginian, tapi ngga apa-apa dah gua belagak 
culun aja. Kemudian kami berpelukan di sofa, dan melakukan perbuatan itu sekali lagi tapi di kamar 
mandi. Doggie style terus bro

Kasur Tempat Latihan Membuat Anak

Hi, nama saya Andreas, teman biasa memanggil saya “Andrew”. Saya seorang expat (bule) yang 
telah lama tinggal di Jakarta, dan saya ingin bertanya kepada anda: Pernahkah anda memiliki fantasi 
seksual terhadap seorang wanita? Wanita itu dapat menjadi siapa saja! Bisa jadi guru anda di sekolah 
dulu, dosen di universitas, teman kerja, bos atau bawahan bahkan mungkin pembantu di rumah anda!
 
Yang jelas wanita itu pasti memiliki sesuatu yang membuat nafas anda sesak setiap kali 
mengingatnya. Well, saya punya! dan percaya atau tidak, saya adalah salah satu lelaki beruntung 
diantara jutaan lelaki yang lain, mengapa? Karena anda akan menemukan bahwa segala impian dan
fantasi seksual saya akan menjadi kenyataan. Dari dulu saya memang selalu menyukai wanita Asia, 
mungkin salah satu alasan mengapa saya mau ditugaskan oleh kantor saya di Jakarta, tempat yang 
tadinya saya tidak pernah tahu eksistensinya, tempat yang tadinya saya tidak tahu akan ada wanita 
seperti Yuli.
Hmmh, Yuli oh Yuli.. Dia memang tidak memiliki buah dada sebesar Pamela Anderson, tapi buah 
dadanya yang sedikit lebih besar dari kepalan tanganku selalu terbayang di dalam blouse kerjanya 
ditutupi bra hitam tepat di bawah leher panjang dan bahu indah warna kuning langsat khas wanita 
Asia. Yuli memang tidak memiliki postur tubuh seindah Cindy Crawford, tetapi pinggangnya yang 
kecil selalu menemani pinggul indah bak apel dan hmm.. pantatnya yang ranum selalu terbayang! 
Tak ketinggalan kaki kecilnya yang panjang bak peragawati menopang pahanya yang putih bersih 
ditutupi rok mininya yang sexy! Takkan habis hasratku menginginkan dirinya! Terbayang selalu 
diriku di atas tubuhnya yang ramping putih meremas buah dadanya! Menarik turun rok mininya! 
Dan memasukan alat kejantananku kedalam kemaluannya! Memompanya dengan cepat! Dan lebih 
cepat! Dan.. “Andrew?”
“Oh.. Hi! Yul..” dengan gelagapan aku menjawab sapaan Yuli yang entah telah berapa lama berada 
di hadapanku yang sedang melamun sambil minum sendirian di Hard Rock Cafe ini. He he, malunya 
aku! “Andrew, kamu lagi ngapain di sini?” Sekali lagi dia menyapaku.
“Yul! Ngga sangka ketemu kamu di sini”, jawabku cepat menutupi kagetku.
Yuli menjawab dengan senyuman sambil berkata: “Aku sih emang sering ke sini! Seneng deh bisa 
ketemu kamu, hihi.. kamu sendirian kan? Aku join kamu yah? yah?”
Sebelum sempat aku menjawab, Yuli telah menarik bangku dan duduk di sampingku, dan kuberpikir 
“Ya Tuhan betapa anehnya ini..”
Lalu selanjutnya kita berdua telah asyik berbicara ngalor-ngidul. Tak kusangka Yuli ternyata kuat 
minum. Pembicaraan kami diwarnai oleh pesanan baru yang selalu datang mengganti gelas 
cocktailnya yang mulai kosong. Sementara konsentrasiku untuk minum telah luluh-lantak 
dihancurkan sepasang bahu indah ditemani leher panjang di atas belahan dada putih milik Yuli, sang 
fantasi seksualku yang tiba-tiba datang menghampiri! Yuli malam ini memang lebih sexy dari 
biasanya ditutupi gaun sackdressnya yang berwarna merah menyala.
Dan kuberpikir lagi, “Oh Tuhan mimpi apa aku semalam?”
Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 3 pagi. Dari cara Yuli berbicara dan raut mukanya, kutahu 
bergelas-gelas cocktail yang Dia minum telah memberikan hasil sesuai yang diinginkannya. Yuli 
mabok. Tidak ada hal lain yang dapat kulakukan selain meminta kunci mobilnya dan memaksa untuk 
mengantarnya sampai di rumah. Yuli tidak melawan dan dengan pasrah masuk ke dalam mobil di 
kursi penumpang depan.
Kumulai menyupirkan mobilnya sampai tiba-tiba Yuli berkata, “Drew! Aku nggak bisa pulang lagi 
mabok kaya beginih.. Ke rumah kamu aja yahh.. aku tidur rumah kamu dulu boleh kan Drew?”
Aku berpikir “Terima kasih Tuhanku!”
Setibanya di apartemenku, kubimbing dia ke kamar tidurku, Yuli langsung duduk di tempat tidur.
Tersenyum aku sambil mencopot sepatunya, kuberpikir “Ya Tuhan betapa indah dan sexynya 
sepasang kaki putih laksana kapas ini.. dan hmmh..”
Tiba-tiba terdengar bisikan yang berkata, “Jangan Andrew! Dia mabok! Kamu nggak boleh 
mempergunakan kesempatan! Itu tidak gentleman!”
Lalu, “Man! lihat betapa sexynya pundak si Yuli, lehernya.. pahanya.. Ohh”
Dan, “Andrew! Kamu bukan orang seperti itu!”
Lalu, “Ingat Andrew! Kapan lagi kamu punya kesempatan seperti ini, jangan bodoh!”
“Sial!!” dalam hatiku.
Ada seorang wanita cantik dan sexy, idamanku, fantasy seksualku, duduk di tempat tidurku dan aku 
malah bingung harus gimana. “Sial! Sial! Sial!”
Ketika aku sedang sibuk sendiri dengan pikiranku, tiba-tiba, “Andrewhh.. sini Andrew.. Hhh” rintih 
Yuli.Tanpa berpikir dua kali aku mendekat seperti anak buah dipanggil majikan dan berkata, “I.. Iya 
Yul.. Ada yang kamu mau? Air putih mungkin?”
“Aku mau kamuhh, Andrew sayanghh..” Yuli menjawab.
“Deg!” tak kuasa kutahan degup jantungku yang semakin menderu-deru.
Belum sempat kuberpikir lebih lanjut, kulihat jari-jari mungil Yuli telah berada di ikat pinggangku 
bersamaan dengan tangan putih berbulu halusnya.
“Aku ingin kamu Andrew.. ”
Sekali lagi Yuli membuka bibirnya yang basah dan ranum memerah, “Iya Andrewhh.. malam ini!” 
Yuli meneruskan desahannya. “Tapi.. Yul..” belum sempat kuhabis berucap, tiba-tiba jari-jari mungil 
tadi dengan perlahan membuka ikat pinggangku dan dengan bantuan lengan yang indah berbulu 
halus tadi menarik turun celana blue jeansku dengan mudah tanpa perlawanan dariku.
“Ohh Yuli.. Aku tak tahu ini benar dilakukan atau..” jawabku.
“Ssst.. Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya dengan orang putih sepertimu Andrew.. ” Yuli 
memotong, dan mulai menarik turun celana dalamku.
“Hmmh, memang Punyanya bule sepertimu lebih besar dari pada orang kita.”
Yuli dengan genit memandangi alat kemaluanku yang memang sudah mulai mengeras. “Yul..” Aku 
yang merasa harus mengatakan sesuatu.
Kembali dipotong olehnya sambil berkata, “Kamu harus tau kehebatan cewek Indonesia Drewhh.. 
mmhh,” sambil berkata demikian Yuli mendekatkan wajah cantiknya ke jantananku dan sambil 
mengedip-ngedipkan bulu matanya yang panjang dan lentik .
Yuli mulai mengecupnya, “Mmmuuah.. cup.. cup..” Bibirnya yang merah ranum mulai menjelajahi 
kepala kejantananku yang mulai mengeras dan terus mengeras.
“Aku belum pernah dengan barang segede gini.. hihi,” godanya genit dan kali ini menjulurkan 
lidahnya ke batang kemaluanku dari bawah kembali ke atas menyentuh kepala kejantananku lagi.
“Mmmhh,” godanya lagi.
“Shh.. hh,” aku cuma bisa mendesis, tak terbayang betapa terangsangnya aku oleh kejadian ini!
Dan, “Emmhh,” Yuli memasukkan setengah alat kejantananku kedalam mulutnya yang mungil, dan 
kepalanya mulai bergerak naik turun secara perlahan.
“Ughhooghh.. Yuli! yeah!” Aku merintih menahan rasa nikmat dari mulut Yuli yang basah dan 
hangat.Yuli sejenak menarik keluar kejantananku dari mulutnya dan berkata, “Emm.. Enak nggak 
sayang? ”Lalu kembali melumat dan menghisap kejantananku kali ini dengan ritme yang lebih cepat, 
“Mmm.. mm..mm..” “Arrgghh!! Yuli! Oh Yuli..” Aku mulai mengerang agak keras karena 
merasakan lidah halus Yuli bergerak-gerak di dalam mulutnya yang hangat sementara kepala Yuli 
terus bergerak naik turun bertambah cepat.
“Ouugghh!!” Kali ini aku tidak dapat menahan hasrat yang meluap-luap di dalam diriku.
Kutarik turun gaun sackdress yang dipakainya sehingga terlihat punggung putih mulus berbulu halus 
sedikit tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam lebat. Yuli tidak memakai bra. Kemudian 
kuteruskan lagi menarik turun sampai terlihat celana dalam putih tipis berenda yang membalut pantat 
putih kemerah-merahan yang ranum. Lalu kujulurkan tanganku yang panjang mencoba meraih liang 
kewanitaan yang tersembunyi di bawah pantat ranum putih miliknya. Dan tersentuh olehku daging 
halus sedikit berbulu yang telah basah oleh cairan lubrikasi tanda siap untuk bercinta!
“Ohh Yuli.. hh kamu sudah basah,” ku bertutur terbata-bata.
“Hmm.. hmm..” Kata-kataku dijawab Yuli dengan hisapan yang lebih cepat dan liar terasa cepat 
melumat seluruh batang kejantananku.
“Ghhaahh.. Yuli!!” Aku kembali mengerang dan mulai menggerak-gerakkan jari-jariku di bagian apa 
saja dari liang kemaluannya yang dapat kuraih! Trus dan trus kujulurkan jariku sampai menyentuh 
klitorisnya.“Mmmhh!” Kali ini terasa reaksi dari Yuli karena Ia mengerang keras sambil membalas 
dengan mempercepat hisapan dan lumatannya ke batang kejantananku.
“Urrghh!! hmm,” aku tidak mau kalah dan kembali membalas dengan menggetarkan secara cepat 
sekali jariku di atas klitorisnya! “Uoohh.. ohh,” tak tahan Yuli mengeluarkan kejantananku dari 
dalam mulutnya, merintih dan mulai menggenggam batang kejantananku dan mengocok cepat naik 
turun. “Uhh.. mmhh.. ohh.. yeahh!!” Berdua kami mengerang, merintih, menikmati sentuhan masing-
masing sampai akhirnya Yuli tiba-tiba mendekatkan mukanya kepadaku. Yuli mulai menciumi dan 
melumat bibirku dengan bibirnya yang merah basah.
Kubalas ciumannya sambil kupeluk dan kuelus punggung mulus dan rambutnya yang tergerai di 
belakang.“Hmmhh..” Sambil berciuman, Yuli merentangkan kedua kaki mulus jenjangnya dan naik 
keatas ku.“Sekarang Andrewwhh.. hh.. hh.. ambillah aku sekaranghh..” Yuli berkata dengan nafas 
memburu sambil menatap lekat wajahku dengan paras cantiknya.
Dengan penuh nafsu kutarik turun celana dalamnya dan kupegang batang kejantananku dengan 
tangan kanan, juga selangkangan Yuli dengan tangan kiri. Lalu mulai memasukkan dengan perlahan 
kepala kejantananku kedalam liang kemaluannya yang merah menyala basah ditumbuhi rambut-
rambut hitam halus indah di atasnya.
“Hoohh.. sshh,” Yuli mendongak ke atas sambil memejamkan matanya dan mendesis merasakan 
kenikmatan penetrasi kepala kejantananku di lubang kemaluannya yang lalu kusambut dengan 
memasukkan batang kejantananku lebih dalam lagi. “Bles!”
“Uhh.. yeah!! Andrewhh!”
“Ohh Yulihh..” sambil kuangkat badan Yuli sedikit dan kulepas lagi sehingga naik turun di atas 
badanku.“Ouurgghh.. ahh..”
Kali ini Yuli mengerang semakin keras dengan raut wajah sedikit meringis sambil berkata lagi, 
“Terus Andrewhh.. gerakin lagi lebih cepat shh.. mmhh.. yeahh..”
Terus terang tidak mudah bagiku untuk bergerak cepat memompa Yuli naik turun di dalam jepitan 
kewanitaannya yang sempit dan hangat seolah ingin menyedot seluruh kejantananku masuk ke dalam.
“Ohh.. mm.. mmhh.. shh.. yeahh..” Yuli tanpa henti-hentinya merintih, mengerang dan menggeram 
mesra seiring kunaikkannya kecepatan tubuhnya yang mulai basah berkeringat naik turun di atasku 
sambil kubenamkan terus lebih dalam kejantananku ke dalam liang kemaluannya yang semakin 
hangat terasa meremas-remas dan memijat-mijat kejantananku.
“Ohh Yuli .. ohh kamu suka sayanghh?” Aku bertanya di sela-sela rintihan, buruan nafas dan erangan 
kita berdua.“Hhh.. Cepat lagi sayanghh.. mmhh. cepat lagihh!” Rintih Yuli semakin bersemangat dan 
mulai menggerak-gerakan pinggul mulus sexynya dengan gerakan erotis kekiri dan kekanan yang 
membuat liang kemaluannya semakin sempit hangat membara, menyedot dan memuntahkan kuat 
kejantananku keluar masuk semakin cepat dan keras.
“Arrgghh!! Yeahh!” Geramku sambil membalas dengan menggenjotkan pantatku ke atas untuk 
membantu kejantananku menghunjam dan menusuk lebih dalam lagi.
“Uhh.. ahh. ahh.. ahh.. ohh.. uuhh.. uhh.. uhh..urrgghhaa!” Jerit Yuli menyambut genjotan hebat yang 
kuberikan kepadanya tanpa henti sehingga terlihat wajah cantik Yuli memejamkan kedua matanya 
lalu meringis hebat sambil menggigit bibir bawah yang merah basah.
“Mmmhh!!” dan membuka mulutnya lagi “Uuuhh!!” Terasa seluruh tubuhnya menggelinjang, 
bergetar hebat menuju puncak kenikmatan dan orgasme berulangkali yang kuberikan kepadanya 
tanpa ampun. Terasa sakit genggaman jari-jemarinya yang mungil sedikit mencakar dan 
menggengam keras di kedua pundakku diikuti dengan seluruh tubuhnya menegang dengan seketika. 
Akhirnya, “Serr!” Terasa cairan hangat mengguyur batang kejantananku yang sedang memompa 
keras di dalam liang kemaluannya. Yah! Puncak orgasme. Yuli telah mencapainya.
“Uuuoohh.. hoh.. hh.. hh.. hoh.. hohh.. hh,” terengah-engah nafas Yuli memburu.
Seluruh tubuhnya yang putih indah telah habis basah kuyup oleh keringatnya, tidak ketinggalan 
rambutnya yang juga tidak kalah basah. Terasa tegang tubuhnya berkurang. Genggamannya 
melemas, dan tubuhnya jatuh lemah lunglai di atas tubuhku yang juga telah basah kuyup diguyur 
keringat.“Hhh..hh..hh.. mmhh kamu emang hebat Andrew.. aku belum pernah merasa sepuas ini oleh 
lelaki sebelumnya..” Tutur Yuli.

Montir Cantik

Saya ingin menceritakan suatu pengalaman unik saat saya berlibur ke kota tempat paman saya

tinggal, Malang. Kejadiannya kira-kira dua minggu yang lalu. Hari Minggu itu keluarga paman yang

terdiri dari paman, bibi dan ketiga anak laki-lakinya yang masih remaja mengajakku pergi ke suatu

kota kecil dekat Malang, yaitu Batu. Daerah itu terkenal karena buah apelnya dan hawanya cukup

dingin. Kami berenam naik mobil Panther kesayangan saya.

Perjalanan kami saat itu cukup menyenangkan. Kami ngobrol kesana kesini tentang keadaan kota

kecil yang akan kami datangi. Sama sekali tidak terpikirkan oleh saya bahwa mobil Panther yang

saya kendarai itu bakal membuat masalah. Dan benar saja, sepuluh menit sebelum kami tiba di Batu,

mobil itu mogok. Paman dan anak-anaknya berusaha mendorong dari belakang dengan sekuat

tenaga. Sementara Bibi duduk dalam mobil itu dengan raut wajah cemas.

Seperempat jam mobil itu belum juga dapat dinyalakan mesinnya. Walaupun dibantu oleh beberapa

orang tukang becak, namun si Panther masih juga mogok. Akhirnya kami memutuskan untuk

membawanya ke bengkel yang tidak jauh dari tempat itu. Sementara itu keluarga Paman akhirnya

pulang kembali ke Malang dengan naik angkutan umum yang lewat di sana.

Mobil yang dipaksa didorong itu akhirnya sampai juga di depan bengkel. Bengkel itu disebut

BENGKEL TIARA oleh penduduk setempat, menurut mereka TIARA itu singkatan dari TIDAK

ADA PRIA. Setelah kuperhatikan, ternyata semua montirnya, walau berseragam montir yang

berlepotan oli, adalah para wanita muda yang cantik dan sexy. Mereka terlihat ramah dan senang

diajak ngobrol. Kasirnya juga seorang wanita. Jadi sama sekali tidak ada pegawai pria di sana. Hebat

juga ya? Melihat kenyataan itu, pikiran isengku muncul.

Kebetulan mobil Pantherku mereka tarik ke ruang dalam bengkel yang sunyi senyap dan tertutup.

Dua orang montir cantik ditugaskan untuk menangani mobil itu. Saat mereka tengah memeriksa

bagian depan mobil Panther tempat mesinnya berada, dengan sengaja kujulurkan kedua tanganku ke

arah pantat mereka. Mereka sedang berdiri menunduk untuk memeriksa mesin mobil. Perlahan

kuraba pantat mereka dengan pelan. Tidak ada reaksi. Karena kelihatannya mereka tidak keberatan,

lalu kuremas-remas pantat mereka berdua. Nah kali ini mereka menoleh.

"Mas... tangan Mas nakal deh... kalo mau yang lebih enak, tunggu ya. Begitu kami selesai menservis

mobil ini, pasti yang punya mobil akan kami servis juga. Jangan kuatir deh.., kami ahlinya dalam

menservis dua-duanya. Ha-ha-ha-ha..." ujar salah seorang montir cantik yang belakangan kuketahui

bernama Gita sambil tersenyum genit.

Aku kaget bukan kepalang. Nah ini dia yang kucari. Jarang lho ada bengkel seperti ini. Ternyata apa

yang dijanjikan Gita ditepati mereka berdua. Saat itu juga aku diajak ke lantai atas di sebuah rumah

di belakang bengkel besar itu. Di sana ada beberapa kamar yang dilengkapi dengan perlengkapan t

idur dan perlengkapan mandi yang serba moderen. Begitu mewah dan mentereng tempatnya. Jauh

sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan bengkel di depannya.

Kedua cewek montir tadi (seorang lagi bernama Tutut), saat aku terperangah menatap ruangan kamar

itu, tiba-tiba entah dari mana muncul dengan hanya mengenakan pakaian minim. Alamaak..! Hanya

BH dan celana dalam tembus pandang yang menutupi tubuh seksi mereka. Aku tidak menyangka

bahwa tubuh mereka yang tadinya terbungkus seragam montir berwarna biru muda, begitu sexy dan

montok. Buah dada mereka saja begitu besar. Gita kelihatannya berpayudara 36B, dan Tutut pasti 38.

BH yang menutupinya seperti tidak muat. Langsung saja si penis andalanku mulai mengeras. Tanpa

menunggu waktu lagi, aku segera membuka pakaianku.

Setelah hampir semua baju dan celanaku terlepas, keduanya tanpa banyak bicara mendorongku

supaya jatuh telentang di atas tempat tidur. Aku pun diserbu. Saat itu hanya tinggal celana dalam

yang masih melekat di tubuhku. Gita dengan ganasnya langsung menyerang bibir dan mulutku.

Ciuman dan permainan lidahnya begitu menggebu-gebu, hampir saja aku tidak dapat bernafas

dibuatnya. Tutut pun tidak kalah ganasnya. Tangannya langsung meraba-raba senjataku dari luar

celana dalamku. Pelan tapi pasti rabaan dan remasannya itu membuatku menggelinjang hebat. Ia pun

menjilati bagian penisku itu, terutama di bagian kepalanya.

Lalu dengan inisiatifnya sendiri, Tutut menurunkan celana dalamku. Maka si kecil pun langsung

mencuat keluar, keras, tegak, dan besar. Tangan Gita langsung mengocok-ngocok penisku.

Sementara Gita mulai terus menjilati buah zakar dan terus ke bagian pangkal penisku. Memang

penisku tergolong besar dibandingkan ukuran rata-rata penis orang Indonesia, panjang 19 cm dan

diameter 7 cm.

Kedua cewek montir itu sekarang bergantian menjilati, mengocok dan mengulum penisku seperti

orang kelaparan. Aku sih senang-senang saja diperlakukan seperti itu. Sementara itu dengan leluasa

kedua tanganku bergegas membuka pengait bra mereka berdua. Setelah penutup payudara mereka

terbuka, tanganku mulai sibuk meremas-remas kedua gunung kembar mereka.

Beberapa menit kemudian, Tutut mulai membuka celana dalamnya. Lalu ia mengarahkan vaginanya

ke mulutku. Oh aku mengerti. Kini gantian aku yang harus menghisap bagian liang kewanitaannya.

Seumur hidupku sebenarnya aku belum pernah melakukannya. Aku takut karena baunya yang tidak

sedap. Ternyata perkiraanku salah. Saat kuendus baunya, ternyata vagina si Tutut terasa amat wangi.

Karena baunya menyenangkan, aku pun menjulurkan lidahku ke liang kemaluannya. Lidahku

berputar-putar masuk keluar di sekitar vaginanya.

Sementara itu, Gita masih terus mengulum dan mengisap penisku. Kemudian tanpa dikomando, ia

pun melepaskan CD-nya dan langsung duduk di atas perutku. Dengan lembut tangan kirinya meraih

penis tegakku lalu pelan-pelan dimasukkannya ke dalam liang senggamanya.

 "Bless... bless... bless..!" terdengar suara kulit penisku bergesekan dengan kulit vaginanya saat ia

mulai turun naik di atas tubuhku.

Aku jadi merem melek dibuatnya. Kenikmatan yang luar biasa. Ia juga terlihat terangsang berat.

Tangan kanannya memegang payudara kanannya sementara matanya terpejam dan lidahnya seperti

bergerak keluar masuk dan memutar. Dari mulutnya terdengar suara erangan seorang wanita yang

sedang dilanda kenikmatan hebat.

Rupanya si Tutut tidak mau kalah atau tidak dapat bagian. Ia mendekati Gita yang sedang bergerak

dengan asyiknya di atas perutku. Gita pun mengerti. Ia turun dari perutku dan menyerahkan penisku

kepada Tutut. Dengan raut wajah terlihat senang, Tutut pun duduk di atas penisku. Yang lebih

gilanya lagi, gerakannya bukan saja naik-turun atau memutar, tapi maju mundur. Wah.., aku jadi

tambah terangsang nih jadinya. Dengan sengaja aku bangkit. Lalu kucium dan kuemut payudara

kembarnya itu.

Dua puluh menit berlalu, tapi 'pertempuran' 2 in 1 ini belum juga akan berakhir. Setelah Tutut puas,

aku segera menyuruh keduanya untuk berjongkok. Aku akan menyetubuhi mereka dengan gaya

doggy style. Konon gaya inilah yang paling disukai oleh para montir wanita yang biasa bekerja di

bengkel-bengkel mobil bila ngeseks. Aku mengarahkan penisku pertama-tama ke liang kenikmatan

Gita dan tanpa ampun lagi penis itu masuk seluruhnya. "Bless! Jeb! Jeb..!"

Kepala Gita terlihat naik turun seirama dengan tusukanku yang maju mundur.

Tiba-tiba saja Gita memegang bagian kepala ranjang dengan kuatnya.

"Uh..! Uh..! Uh..! Aku mau keluar, Mas..!" erangnya dengan suara tertahan.

Rupanya ia orgasme. Lalu aku pun mencabut penisku yang basah oleh cairan kemaluannya Gita dan

kumasukkan ke vagina Tutut. Perlu kalian tahu, vagina Tutut ternyata lebih liat dan agak sulit

ditembus dibanding punyanya Gita. Mungkin Tutut jarang ngeseks, walau aku yakin betul kedua-

duanya jelas-jelas sudah tidak perawan lagi.

Begitu penisku amblas ke dalam vagina Tutut, penisku seperti disedot dan diputar. Sambil

memegang pantat Tutut yang amat besar dan putih mulus, aku terus saja maju mundur menyerang

lubang kenikmatan Tutut dari belakang. Hampir saja aku ejakulasi dari tadi. Untung saja aku dapat

menahannya. Aku tidak mau kalah duluan. Sepuluh menit berlalu, tapi Tutut belum juga orgasme.

Maka kubaringkan dia sekali lagi, dan aku akan menusuk vaginanya dengan gaya konvensional.

Seperti biasa, ia berada di bawahku dan kedua kakinya menjepit punggungku. Aku dapat naik turun

di atas tubuhnya dengan posisi seperti segitiga siku-siku. Matanya merem melek merasakan

kedahsyatan penis ajaibku.

Permainanku diimbangi dengan usahaku untuk mengulum puting payudaranya yang besar dan

kenyal. Ternyata dengan mengulum payudara itu, spaningku semakin naik. Penisku terasa semakin

membesar di dalam kemaluannya Tutut. Dan tiba-tiba.., sesuatu sepertinya akan lepas dari tubuhku.

"Crot..! Crot..! Crot..!" aku mengalami ejakulasi luar dahsyatnya.

Sebanyak dua belas kali semprotan maniku berhamburan di dalam vaginanya Tutut. Aku pun lemas

di atas tubuhnya.

Saat aku sudah tertidur di atas kasur empuk itu, tanpa setahuku Tutut dan Gita cepat-cepat

mengenakan pakaiannya kembali dan kemudian pergi entah ke mana. Lalu kudengar langkah

seorang pria berjalan masuk ke kamar itu. Ia mendekati ranjang dan membangunkanku.

"Van.., bangun, Van..!" tangannya yang kekar terasa menggoyangkan punggungku yang telanjang.

Saat aku membuka mata, ternyata Paman!

"Lho, Paman.., bukankah Paman tadi udah pulang bersama Bibi dan adik-adik..?"

Ia menjawab sambil mengganggukkan kepala, "Benar, Ivan... kedua wanita tadi adalah pegawai-

pegawai Paman sebenarnya... Mereka berdua Paman suruh men'servis' kamu karena Paman dan Bibi

tidak sempat memberimu hadiah ultahmu ke 28 bulan yang lalu, jadi itu hadiahnya. Dan mengenai

mobil Panther itu, Paman sengaja mengotak-atik kabel mesinnya, lalu kuajarkan si Sri Hadiyanti dan

Regita Cahyani itu untuk membetulkannya. Anggap aja kejutan ya, Van... tapi kamu puas kan atas

pelayanan mereka berdua? Jangan kuatir.., selama kau berada di sini, Paman mempersilakan kamu

mengencani mereka sampai kamu bosan. Kebetulan kan tiap hari mereka masuk kerja.

He-he-he-he..."

Wah.., pengalaman tidak terlupakan nih! Memang sejak itu, selama 15 hari aku berada di Malang

dalam rangka libur semesteran kuliahku di Amerika, aku sepertinya tidak bosan-bosan melayani

kencan seks kedua gadis seksi itu. Setiap kali kami selesai melakukannya, Gita selalu berkata, "Mas

Ivan... kami belum pernah merasakan penis yang begitu hebat dan perkasa menerobos vagina kami..,

biasanya kalo tamu Pamanmu, mereka baru 1 menit udah KO! Tapi kau kuat sekali... bisa sampai

dua setengah jam... minum apa sih, Mas..? " Setiap kali ditanya begitu,

aku hanya tersenyum simpul dan menjawab, "Ada deh..." Keduanya menatap keheranan.

MAMA MONA, MERTUAKU

Sudah dua tahun ini aku menikah dengan Virni, dia seorang model iklan dan enam bulan lalu, dia menjadi seorang bintang sinetron, sementara aku sendiri adalah seorang wiraswasta di bidang pompa bensin. Usiaku kini 32 tahun, sedangkan Virni usia 21 tahun. Virni seorang yang cantik dengan kulit yang putih bersih mungkin karena keturunan dari ibunya. Aku pun bangga mempunyai istri secantik dia. Ibunya Virni, mertuaku, sebut saja Mama Mona, orangnya pun cantik walau usianya sudah 39-tahun. Mama Mona merupakan istri ketiga dari seorang pejabat negara ini, karena istri ketiga jadi suaminya jarang ada di rumah, paling-paling sebulan sekali. Sehingga Mama Mona bersibuk diri dengan berjualan berlian. Aku tinggal bersama istriku di rumah ibunya, walau aku sndiri punya rumah tapi karena menurut istriku, ibunya sering kesepian maka aku tinggal di "Pondok Mertua Indah". Aku yang sibuk sekali dengan bisnisku, sementara Mama Mona juga sibuk, kami jadi kurang banyak berkomunikasi tapi sejak istriku jadi bintang sinetron 6 bulan lalu, aku dan Mama Mona jadi semakin akrab malahan kami sekarang sering melakukan hubungan suami istri, inilah ceritanya. Sejak istriku sibuk syuting sinetron, dia banyak pergi keluar kota, otomatis aku dan mertuaku sering berdua di rumah, karena memang kami tidak punya pembantu. Tiga bulan lalu, ketika istriku pergi ke Jogja, setelah kuantar istriku ke stasiun kereta api, aku mampir ke rumah pribadiku dan baru kembali ke rumah mertuaku kira-kira jam 11.00 malam. Ketika aku masuk ke rumah aku terkaget, rupanya mertuaku belum tidur. Dia sedang menonton TV di ruang keluarga. "Eh, Mama.. belum tidur..." "Belum, Tom... saya takut tidur kalau di rumah belum ada orang..." "Oh, Maaf Ma, saya tadi mampir ke rumah dulu.. jadi agak telat..." "Virni... pulangnya kapan?" "Ya... kira-kira hari Rabu, Ma... Oh.. sudah malam Ma, saya tidur dulu..." "Ok... Tom, selamat tidur..." Kutinggal Mama Mona yang masih nonton TV, aku masuk ke kamarku, lalu tidur. Keesokannya, Sabtu Pagi ketika aku terbangun dan menuju ke kamar makan kulihat Mama Mona sudah mempersiapkan sarapan yang rupanya nasi goreng, makanan favoritku. "Selamat Pagi, Tom..." "Pagi... Ma, wah Mama tau aja masakan kesukaan saya." "Kamu hari ini mau kemana Tom?" "Tidak kemana-mana, Ma... paling cuci mobil..." "Bisa antar Mama, Mama mau antar pesanan berlian." "Ok.. Ma..." Hari itu aku menemani Mama pergi antar pesanan dimana kami pergi dari jam 09.00 sampai jam 07.00 malam. Selama perjalanan, Mama menceritakan bahwa dia merasa kesepian sejak Virni makin sibuk dengan dirinya sendiri dimana suaminya pun jarang datang, untungnya ada diriku walaupun baru malam bisa berjumpa. Sejak itulah aku jadi akrab dengan Mama Mona. Sampai di rumah setelah berpergian seharian dan setelah mandi, aku dan Mama nonton TV bersama-sama, dia mengenakan baju tidur modelnya baju handuk sedangkan aku hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Tiba-tiba Mama menyuruhku untuk memijat dirinya. "Tom, kamu capek nggak, tolong pijatin leher Mama yach... habis pegal banget nih..." "Dimana Ma?" "Sini.. Leher dan punggung Mama..." Aku lalu berdiri sementara Mama Mona duduk di sofa, aku mulai memijat lehernya, pada awalnya perasaanku biasa tapi lama-lama aku terangsang juga ketika kulit lehernya yang putih bersih dan mulus kupijat dengan lembut terutama ketika kerah baju tidurnya diturunkan makin ke bawah dimana rupanya Mama Mona tidak mengenakan BH dan payudaranya yang cukup menantang terintip dari punggungnya olehku dan juga wangi tubuhnya yang sangat menusuk hidungku. "Maaf, Ma... punggung Mama juga dipijat..." "Iya... di situ juga pegal..." Dengan rasa sungkan tanganku makin merasuk ke punggungnya sehingga nafasku mengenai lehernya yang putih, bersih dan mulus serta berbulu halus. Tiba-tiba Mama berpaling ke arahku dan mencium bibirku dengan bibirnya yang mungil nan lembut, rupanya Mama Mona juga sudah mulai terangsang. "Tom, Mama kesepian... Mama membutuhkanmu..." Aku tidak menjawab karena Mama memasukkan lidahnya ke mulutku dan lidah kami bertautan. Tanganku yang ada di punggungnya ditarik ke arah payudaranya sehingga putingnya dan payudaranya yang kenyal tersentuh tanganku. Hal ini membuatku semakin terangsang, dan aku lalu merubah posisiku, dari belakang sofa, aku sekarang berhadapan dengan Mama Mona yang telah meloloskan bajunya sehingga payudaranya terlihat jelas olehku. Aku tertegun, rupanya tubuh Mama Mona lebih bagus dari milik anaknya sendiri, istriku. Aku baru pertama kali ini melihat tubuh ibu mertuaku yang toples. "Tom, koq bengong, khan Mama sudah bilang, Mama kesepian..." "iya... iya.. iya Mah," Ditariknya tanganku sehingga aku terjatuh di atas tubuhnya, lalu bibirku dikecupnya kembali. Aku yang terangsang membalasnya dengan memasukkan lidahku ke mulutnya. Lidahku disedot di dalam mulutnya. Tanganku mulai bergerilya pada payudaranya. Payudaranya yang berukuran 36B sudah kuremas-remas, putingnya kupelintir yang membuat Mama Mona menggoyangkan tubuhnya karena keenakan. Tangannya yang mungil memegang batangku yang masih ada di balilk celana pendekku. Diusap-usapnya hingga batangku mulai mengeras dan celana pendekku mulai diturunkan sedikit, setelah itu tangannya mulai mengorek di balik celana dalamku sehingga tersentuhlah kepala batangku dengan tangannya yang lembut yang membuatku gelisah. Keringat kami mulai bercucuran, payudaranya sudah tidak terpegang lagi tanganku tapi mulutku sudah mulai menari-nari di payudaranya, putingnya kugigit, kuhisap dan kukenyot sehingga Mama Mona kelojotan, sementara batangku sudah dikocok oleh tangannya sehingga makin mengeras. Tanganku mulai meraba-raba celana dalamnya, dari sela-sela celana dan pahanya yang putih mulus kuraba vaginanya yang berbulu lebat. Sesekali kumasuki jariku pada liang vaginanya yang membuat dirinya makin mengelinjang dan makin mempercepat kocokan tangannya pada batangku. Hampir 10 menit lamanya setelah vaginanya telah basah oleh cairan yang keluar dengan berbau harum, kulepaskan tanganku dari vaginanya dan Mama Mona melepaskan tangannya dari batangku yang sudah keras. Mama Mona lalu berdiri di hadapanku, dilepaskannya baju tidurnya dan celana dalamnya sehingga aku melihatnya dengan jelas tubuh Mama Mona yang bugil dimana tubuhnya sangat indah dengan tubuh tinggi 167 cm, payudara berukuran 36B dan vagina yang berbentuk huruf V dengan berbulu lebat, membuatku menahan ludah ketika memandanginya. "Tom, ayo... puasin Mama..." "Ma... tubuh Mama bagus sekali, lebih bagus dari tubuhnya Virni..." "Ah... masa sih.." "Iya, Ma.. kalau tau dari 2 tahun lalu, mungkin Mamalah yang saya nikahi..." "Ah.. kamu bisa aja..." "Iya.. Ma.. bener deh.." "Iya sekarang.. puasin Mama dulu.. yang penting khan kamu bisa menikmati Mama sekarang..." "Kalau Mama bisa memuaskan saya, saya akan kawini Mama..." Mama lalu duduk lagi, celana dalamku diturunkan sehingga batangku sudah dalam genggamannya, walau tidak terpegang semua karena batangku yang besar tapi tangannya yang lembut sangat mengasyikan. "Tom, batangmu besar sekali, pasti Virni puas yach." "Ah.. nggak. Virni.. biasa aja Ma..." "Ya.. kalau gitu kamu harus puasin Mama yach..." "Ok... Mah..." Mulut mungil Mama Mona sudah menyentuh kepala batangku, dijilatnya dengan lembut, rasa lidahnya membuat diriku kelojotan, kepalanya kuusap dengan lembut. Batangku mulai dijilatnya sampai biji pelirku, Mama Mona mencoba memasukkan batangku yang besar ke dalam mulutnya yang mungil tapi tidak bisa, akhirnya hanya bisa masuk kepala batangku saja dalam mulutnya. Hal ini pun sudah membuatku kelojotan, saking nikmatnya lidah Mama Mona menyentuh batangku dengan lembut. Hampir 15 menit lamanya batangku dihisap membuatnya agak basah oleh ludah Mama Mona yang sudah tampak kelelahan menjilat batangku dan membuatku semakin mengguncang keenakan. Setelah itu Mama Mona duduk di Sofa dan sekarang aku yang jongkok di hadapannya. Kedua kakinya kuangkat dan kuletakkan di bahuku. Vagina Mama Mona terpampang di hadapanku dengan jarak sekitar 50 cm dari wajahku, tapi bau harum menyegarkan vaginanya menusuk hidungku. "Ma, Vagina Mama wangi sekali, pasti rasanya enak sekali yach." "Ah, masa sih Tom, wangi mana dibanding punya Virni dari punya Mama." "Jelas lebih wangi punya mama dong..." "Aaakkhh..." Vagina Mama Mona telah kusentuh dengan lidahku. Kujilat lembut liang vagina Mama Mona, vagina Mama Mona rasanya sangat menyegarkan dan manis membuatku makin menjadi-jadi memberi jilatan pada vaginanya. "Ma, vagina... Mama sedap sekali.. rasanya segar..." "Iyaaaah... Tom, terus... Tom... Mama baru kali ini vaginanya dijilatin... ohhh.. terus... sayang..." Vagina itu makin kutusuk dengan lidahku dan sampai juga pada klitorisnya yang rasanya juga sangat legit dan menyegarkan. Lidahku kuputar dalam vaginanya, biji klitorisnya kujepit di lidahku lalu kuhisap sarinya yang membuat Mama Mona menjerit keenakan dan tubuhnya menggelepar ke kanan ke kiri di atas sofa seperti cacing kepanasan. "Ahh... ahh.. oghh oghh... awww.. argh.. arghh.. lidahmu Tom... agh, eena... enakkkhh.. aahh... trus.. trus..." Klitoris Mama Mona yang manis sudah habis kusedot sampai berulang-ulang, tubuh Mama Mona sampai terpelintir di atas sofa, hal itu kulakukan hampir 30 menit dan dari vaginanya sudah mengeluarkan cairan putih bening kental dan rasanya manis juga, cairan itupun dengan cepat kuhisap dan kujilat sampai habis sehingga tidak ada sisa baik di vaginanya maupun paha mama Mona. "Ahg... agh... Tom... argh... akh.. akhu... keluar.. nih... ka.. kamu.. hebat dech..." Mama Mona langsung ambruk di atas sofa dengan lemas tak berdaya, sementara aku yang merasa segar setelah menelan cairan vagina Mama Mona, langsung berdiri dan dengan cepat kutempelkan batang kemaluanku yang dari 30 menit lalu sudah tegang dan keras tepat pada liang vagina Mama Mona yang sudah kering dari cairan. Mama Mona melebarkan kakinya sehingga memudahkanku menekan batangku ke dalam vaginanya, tapi yang aku rasakan liang vagina Mama Mona terasa sempit, aku pun keheranan. "Ma... vagina Mama koq sempit yach... kayak vagina anak gadis." "Kenapa memangnya Tom, nggak enak yach..." "Justru itu Ma, Mama punya sempit kayak punya gadis. Saya senang Ma, karena vagina Virni sudah agak lebar, Mama hebat, pasti Mama rawat yach?" "Iya, sayang.. walau Mama jarang ditusuk, vaginanya harus Mama rawat sebaik-baiknya, toh kamu juga yang nusuk..." "Iya Ma, saya senang bisa menusukkan batang saya ke vagina Mama yang sedaaap ini..." "Akhhhh... batangmu besar sekali..." Vagina Mama Mona sudah terterobos juga oleh batang kemaluanku yang diameternya 4 cm dan panjangnya 28 cm, setelah 6 kali kuberikan tekanan. Pinggulku kugerakan maju-mundur menekan vagina Mama Mona yang sudah tertusuk oleh batangku, Mama Mona hanya bisa menahan rasa sakit yang enak dengan memejamkan mata dan melenguh kenikmatan, badannya digoyangkan membuatku semakin semangat menggenjotnya hingga sampai semua batangku masuk ke vaginanya. "Tom.. nggehhh.. ngghhh.. batangmu menusuk sampai ke perut.. nich.. agggghhh.. agghhh.. aahhh.. eenaakkhh..." Aku pun merasa keheranan karena pada saat masukkan batangku ke vaginanya Mama Mona terasa sempit, tapi sekarang bisa sampai tembus ke perutnya. Payudara Mama Mona yang ranum dan terbungkus kulit yang putih bersih dihiasi puting kecil kemerahan sudah kuterkam dengan mulutku. Payudara itu sudah kuhisap, kujilat, kugigit dan kukenyot sampai putingnya mengeras seperti batu kerikil dan Mama Mona belingsatan, tangannya membekap kepalaku di payudaranya sedangkan vaginanya terhujam keras oleh batangku selama hampir 1 jam lamanya yang tiba-tiba Mama Mona berteriak dengan lenguhan karena cairan telah keluar dari vaginanya membasahi batangku yang masih di dalam vaginanya, saking banyaknya cairan itu sampai membasahi pahanya dan pahaku hingga berasa lengket. "Arrrgghhhh.. argghhh.. aakkkhh.. Mama... keluar nich Tom... kamu belum yach..?" Aku tidak menjawab karena tubuhnya kuputar dari posisi terlentang dan sekarang posisi menungging dimana batangku masih tertancap dengan kerasnya di dalam vagina Mama Mona, sedangkan dia sudah lemas tak berdaya. Kuhujam vagina Mama Mona berkali-kali sementara Mama Mona yang sudah lemas seakan tidak bergerak menerima hujaman batangku, Payudaranya kutangkap dari belakang dan kuremas-remas, punggungnya kujilat. Hal ini kulakukan sampai 1 jam kemudian di saat Mama Mona meledak lagi mengeluarkan cairan untuk yang kedua kalinya, sedangkan aku mencapai puncak juga dimana cairanku kubuang dalam vagina Mama Mona hingga banjir ke kain sofa saking banyaknya cairanku yang keluar. "Akhh.. akh.. Ma, Vagina Mama luar biasa sekali..." Aku pun ambruk setelah hampir 2,5 jam merasakan nikmatnya vagina mertuaku, yang memang nikmat, meniban tubuh Mama Mona yang sudah lemas lebih dulu. Aku dan Mama terbangun sekitar jam 12.30 malam dan kami pindah tidur ke kamar Mama Mona, setelah terbaring di sebelah Mama dimana kami masih sama-sama bugil karena baju kami ada di sofa, Mama Mona memelukku dan mencium pipiku. "Tom, Mama benar-benar puas dech, Mama pingin kapan-kapan coba lagi batangmu yach, boleh khan..." "Boleh Ma, saya pun juga puas bisa mencoba vagina Mama dan sekarangpun yang saya inginkan setiap malam bisa tidur sama Mama jika Virni nggak pulang." "Iya, Tom.. kamu mau ngeloni Mama kalau Virni pergi?" "Iya Ma, vagina Mama nikmat sih." "Air manimu hangat sekali Tom, berasa dech waktu masuk di dalam vagina Mama." "Kita Main lagi Ma...?" "Iya boleh..." Kami pun bermain dalam nafsu birahi lagi di tempat tidur Mama hingga menjelang ayam berkokok baru kami tidur. Mulai hari itu aku selalu tidur di kamar Mama jika istriku ada syuting di luar kota dan ini berlangsung sampai sekarang. TAMAT